Home Review Siswa Menulis Kisah Dua Ekor Keledai

Kisah Dua Ekor Keledai

E-mail Print PDF

Suatu hari seorang pedagang memulai perjalanan jauhnya. Ia membawa dua ekor keledai untuk mengangkut barang bawaannya. Salah satu keledai mengangkut keranjang yang berisi garam, sedangkan keledai satunya mengangkut karung yang berisi kapas. Merasakan bebannya begitu ringan, si keledai pengangkut kapas mengejek temannya yang mengangkut garam, “Kasian dech kamu, perjalanan jauh gini memanggul garam seberat itu. Hehehehe….. Mending aku, cuma mengangkut kapas. Jadinya santai…” Mendengar ejekan dari keledai pengangkut kapas itu, si keledai pengangkut garam merasa kesal, “Diam kamu! Bukannya membantu malah mengejek, bikin tambah kesel 'aja.” Melihat temannya kesal, keledai pengangkut kapas itu bukannya diam dan meminta maaf, bahkan sepanjang perjalanan semakin menjadi-jadi ejekan dan ledekannya.

Hingga akhirnya berbaliklah keadaan 180 derajat. Saat itu rombongan tiba di sebuah sungai yang lebar dan arusnya kuat, tidak ada jembatan, satu-satunya jalan adalah mencebur dan menyebrangi sungai itu. Akhirnya pedagang itu menarik dua keledainya mencebur ke dalam sungai. Setelah lama berjuang menahan arus sungai, akhirnya tibalah di seberang sungai. Tapi terjadilah satu kejadian di luar dugaan keledai-keledai itu. Garam dalam karung yang diangkut salah satu keledai itu ternyata larut oleh air sungai, sehingga nyaris lenyaplah semua beban si keledai pengangkut garam. Sedangkan keadaan sebaliknya terjadi, kapas dalam karung yang diangkut si keledai pengejek kini justru bertambah amat sangat berat karena kapas-kapas itu menyerap air sungai selama menyeberang tadi. Mengeluhlah si keledai pengangkut kapas tadi, “Aduuh gila! Jadi berat banget bawaanku, kapas-kapas ini jadi menyerap air begini. Eh tolong dong bawakan sebagian kapas ini, garammu kan habis dan larut di air tadi.” Mendengar keluhan temannya, si keledai pengangkut garam ganti mengejek, “Enak aja, tidak ingat kamu! Tadi waktu aku keberatan membawa garam, bukannya kamu bantu malah mengejek terus sepanjang jalan, kesal tahu! Sekarang gantian kamu rasakan itu!” Mendengar jawaban temannya seperti itu, rasa sesal dan kesal menyelimuti hati keledai pengangkut kapas, sepanjang perjalanan keluhan dan penyesalannya terus menjadi-jadi. Ia menyesal seandainya di awal perjalanan ia membantu si keledai pengangkut garam, pasti sekarang ganti ia yang dibantu. Itulah akibatnya bila tidak mau saling membantu.

 

Mutiara hikmah:

  •  Bila ada teman yang kesusahan, janganlah kita menambah kesusahannya dengan mengejeknya atau mengucapkan perkataan yang tidak mengenakkan. Justru sebaliknya hendaknya kita upayakan untuk membantu, sebab suatu ketika kita pasti butuh bantuan orang lain.
  • Allah SWT senantiasa mengulurkan bantuan kepada orang yang suka mengulurkan bantuan kepada orang lain.

 

Comments
Add New RSS
Anonymous   |125.167.91.xxx |2010-06-22 12:10:36
belajarlah untuk selalu berbuat kebaikan. jangan pernah meminta balasan sekalipun itu hanya ucapan terimakasih
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 05 May 2011 07:30 )