Sebelum SDMT Ponorogo berdiri, di tempat yang sama pernah berdiri Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 8 Ronowijayan. MIM 8 Ronowijayan berdiri sejak tahun 1956 dan pernah menjadi lembaga pendidikan yang cukup diunggulkan di lingkungan Muhammadiyah kecamatan Siman hingga kabupaten Ponorogo. Mulai tahun 1991 minat masyarakat kepada MI ini mulai surut dan puncaknya pada tahun 2003 sudah tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar.
Untuk mengatasi kondisi yang demikian, Pimpinan Ranting Muhammadiyah Ronowijayan mencoba berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat setempat agar menyekolahkan putra-putrinya ke lembaga ini, antara lain dengan menggratiskan biaya pendaftaran dan SPP serta memberikan bantuan seragam, buku dan alat tulis. Namun tidak membuahkan hasil.
Atas saran Bapak Rudianto, salah seorang warga Ronowijayan yang juga dosen Unmuh Ponorogo, bahwa sekolah akan diminati masyarakat apabila dibangun dengan konsep baru dan dalam penyelenggaraannya melibatkan peran aktif masyarakat, terutama masyarakat Muhammadiyah Ronowijayan. Dari hasil musyawarah Pimpinan Ranting yang menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat disepakati bahwa sekolah yang akan dikembangkan adalah benar-benar baru, yaitu dengan label "Sekolah Dasar" tidak lagi berlabel "Madrasah Ibtidaiyah". Untuk menegaskan konsep sekolah baru yang diharapkan bisa mengintegrasikan unsur pendidikan intelektual-emosional-spiritual sekaligus, maka ditambahkanlah nama "Terpadu", jadi terciptalah nama "Sekolah Dasar Muhammadiyah Terpadu" disingkat "SDMT". Selanjutnya disepakati pula, bahwa untuk menyusun konsep sekolah baru pada tingkat implementasi perlu dibentuk sebuah tim. Tim yang dibentuk ini terdiri dari 9 orang yang kemudian dikenal dengan nama Tim Sembilan, mereka adalah:
- Drs. Sulton, M.Si. — Dosen Unmuh Ponorogo
- Drs. Rudianto, M.Pd. — Dosen Unmuh Ponorogo
- Supriyanto, S.Pd. — Guru/Yayasan
- Drs. Sunyoto — Guru/Yayasan
- Heriyanto, A.Ma. — Guru/Yayasan
- Abdul Wahid Masruri, SE. — Wiraswasta
- Ahmad Baedowi, ST. — Pengusaha
- Hj. Siti Qomariyah, S.Ag. — Guru
- Suyitno, S.Ag. — Tokoh masyarakat
Tim yang berkedudukan sebagai Tim Pendiri ini merumuskan sejumlah konsep lanjutan tentang pola pendidikan yang akan dikembangkan, penunjukkan kepala sekolah, rekrutmen guru hingga penyiapan sarana-prasarana yang dibutuhkan. Secara aklamasi, yang ditunjuk menjadi kepala sekolah adalah Drs. Rudianto, M.Pd, karena dipandang memiliki semangat dan ide-ide baru mengembangkan sekolah yang inovatif.

Keterangan foto: SDMT pada awal berdiri (kiri dan tengah); SDMT setelah satu windu (kanan)
Setelah SD Muhammadiyah Terpadu (SDMT) berdiri dengan surat pengukuhan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo tertanggal 20 Mei 2003, Bapak Rudianto segera mengambil upaya awal mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan melakukan sosialisasi melalui berbagai media seperti brosur, spanduk, radio dan even-even lain, bahkan door to door. Usaha ini membuahkan hasil, yaitu dengan mendaftarnya 8 orang siswa dari Ronowijayan dan sekitarnya. Untuk lebih meyakinkan masyarakat tentang konsep baru pendidikan yang ditawarkan, beliau merekrut tenaga-tenaga pendidik yang baru, sarjana lulusan kependidikan, alumni pondok modern Gontor, dan dosen-dosen Unmuh Ponorogo. Dengan semangat ibadah dan pengabdian, bergabunglah Drs. Sumaji, MPd. dan Bambang Harmanto, SPd. MPd, -yang juga merupakan dosen Unmuh Ponorogo-, untuk bersama-sama mengelola lembaga ini.
Manajemen sekolah baik struktural maupun kultural mulai diletakkan dasar-dasar pondasinya. Jajaran pimpinan struktural sekolah mengambil istilah direktorat, yaitu terdiri dari Direktur dan Wakil Direktur. Hal ini dimaksudkan untuk menegaskan identitas dan semangat baru mengembangkan manajemen sekolah yang lebih professional. Di sisi lain, kultur diskusi berbagi pemikiran dan ide-ide pengembangan sekolah, baik antar guru–direktur–wali murid–yayasan terus digalakkan. Untuk menopang kegiatan penyelenggaraan sekolah ini, yayasan menggalang dana dari masyarakat untuk menjadi donatur tetap, di samping mengupayakan pinjaman dari bank sebagai modal awal. Dan langkah utama yang tidak terlewatkan adalah mendidik para siswa melalui proses pembelajaran inovatif, kreatif dan kontekstual sebagaimana konsep awal yang dicetuskan.
Pada tahun kedua respon positif masyarakat mulai muncul yaitu dengan terisinya kuota satu rombongan belajar (23 siswa). Secara legal formal, keberadaan SDMT semakin diperkokoh dengan diterbitkannya Sertifikat Nomor Induk Sekolah (NIS) oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo tertanggal 14 Januari 2005.
Seiring dengan berjalannya waktu, berbagai terobosan dan langkah-langkah strategis terus diupayakan baik meningkatkan layanan pendidikan, memperbaiki manajemen, maupun membangun image sekolah di tengah masyarakat. Sehingga dari tahun ke tahun (sampai dengan tahun keenam), siswa yang mendaftarkan diri ke SDMT Ponorogo terus dapat memenuhi kuota yang berkisar antara 45 orang siswa tiap tahunnya - yang terbagi ke dalam 2 rombongan belajar. Para siswa tersebut datang dari berbagai kecamatan di Ponorogo (seperti Jenangan, Babadan, Jetis, Mlarak, bahkan Ngebel). (ISB/SDMT)
| Comments |
|
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
Review


Google
Facebook
Twitter
del.icio.us
Blogger
My Site